Dari : Agung
Pertanyaan : Beberapa hari yang lalu saya mengunjungi seorang bapak yang sudah berusia 60
tahun keatas, dan berada didalam keadaan koma di ICU. Dokter dan para ahli
neurologist mengatakan bahwa pembuluh darah di otaknya pecah, disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu kurangnya melatih peredaran darah dengan cara berolah
raga tipe aerobic (seperti running, swimming, badminton, ataupun memutarbalikan kepala kearah lantai, agar pembuluh darah disekitar syaraf kepala mendapat kestabilan dalam elastisitasnya dgn memacu peredaran darahnya secara stabil diseluruh tubuh), serta kurangnya menjaga makanan yang mengandung minyak yg bersifat jenuh. Tiga hari bapak tsb memakai artificial breathing, catheter dll, namun atas keputusan rumah sakit tsb, dan setelah ditinjau secara medis, segala alat tsb harus dicabut dg alasan bahwa masih byk pasien lainnya yg membutuhkan ruangan tsb karena kekurangan alat-2 medis. Sewaktu saya memegang kepala bapak tsb, tekanan darah systolic dan diastolicnya
melonjak dari 100/60 menjadi 150/98. Dari ini saya menyadari bahwa jiwanya
mengerti dan orgnya tergolong masih hidup. Pertanyaan saya, atas keputusan hospital, apakah dokter yg mencabut alat pernafasan itu berarti membunuh?? Terkena karma buruk tidakkah sang dokter tsb? (more…)
Februari 12, 2008
Dari : Agung
Pertanyaan :
Bermula dari hati yang berprikemanusiaan, seseorang dapat terdorong untuk
berbuat amal/kebaikan bagi mereka yang berada disekelilingnya, meskipun dari suatu hal perbuatan yang kecil, seperti memberikan minum bagi para tamu yang merasa haus yang bersinggah di rumah kita, menunjukan alamat tujuan bagi yang tersesat dijalan raya, sampai kepada menolong pasien-pasien yang sakit didalam bidang kedokteran, dan meluruskan pandangan bagi para taoyu yang menyimpang dari hukum dan ketetapan dari yang Maha Kuasa/TAO/Tuhan. Segala macam bentuk kungtek, dari yang terkecil sampai terbesar, dewa/i yang menilainya dan segalanya dipertimbangkan juga dengan kelakuan-kelakuan penyimpangan yang kita lakukan didalam kehidupan sehari-hari kita. Pertanyaan saya adalah, banyak taoyu yang sadar ingin berbuat kungtek dengan menyumbangkan opini, meluruskan pandangan yang berguna bagi sesamanya, berbagi komentar melalui internet, namun dalam saat yang bersamaan pula ada yang iseng-iseng juga membuka internet porno setelah berdiskusi Tao, mengamatinya dan mengumbar hawa nafsunya, lantas apakah dalam hal ini sebuah nilai positif yang seseorang telah dapatkan dari dewa/i akan menjadi percuma saja?? Bagaimana halnya dengan merokok? (Ada seorang sesiung yang menjelaskan bahwa, didalam suatu penglihatan, ada dewa yang menunjukan “moments”/kejadian selama hidupnya dari awal sampai kepada keadaanya pada saat itu, pokoknya seperti layar film katanya, segala perbuatan
kungtek dan perbuatan salahnya dipertimbangkan sampai sedemikian terperinci, sehingga dari situ katanya beliau menyadari, bahwa membuang kunyahan permen karet atau puntungan rokok dari gedung bertingkat pun dapat mengakibatkan musibah besar bagi dirinya dan orang lain dibawah gedung itu. Dan katanya kita harus bertindak hati-hati dan selalu melihat segala sesuatunya secara cermat.) (more…)
Februari 4, 2008
Dari : SANFAK
Pertanyaan :
Mau tanya, teori dan praktek, mana yang lebih penting ? (more…)
Februari 3, 2008
Dari : Agung
Pertanyaan :
Dikatakan bahwa Dewa/i mencatat perbuatan dan tingkah laku kita dan setiap orang yang sudah di taoying mendapatkan dewa pendamping (Fufaksen). Pertanyaan saya adalah, didunia ini ada berbagai macam aliran agama, ada pengikut-pengikutnya juga, namun ada juga orang-orang yang masih belum memiliki agama apapun juga, lantas apakah ada dewa/i atau Tuhan yang mencatat setiap perbuatan mereka yang tidak beragama itu? (Saya pernah dengar seorang sesiung yang mengatakan bahwa setiap manusia itu tidak luput dari hukum dan ketetapan TAO atau Tuhan.) Trims. (more…)
Februari 3, 2008
Dari : Agung
Pertanyaan :
Beberapa tahun yang lalu, saya pernah bertanya dengan seorang sesiung mengenai keadaan saya sendiri, yaitu perasaan yang timbul dalam diri saya ketika mencoba membiasakan diri untuk merokok. Saat sesiung tersebut ingin menawarkan sebatang rokok, saya menceritakan pengalaman dimana disaat saya sedang menikmati sebatang
rokok dimasa lalu, dimana secara tiba-tiba ada sesuatu yang timbul yang mencekam hati, yang membuat perasaan tidak tenang, sehingga akhirnya saya padamkan rokok itu dan membuangnya. Namun komentar yang saya dapat adalah, bahwa kita yang sedang siutao ini, tidak boleh sedikit-sedikit mengeluh akan perasaan yang timbul dari dalam hati, dan harus menyadari bahwa kita mempunyai cen yen
penangkal ataupun cen yen lainnya yang bisa digunakan, dan harus mempunyai kemantapan hati agar tidak terombang-ambing dengan perasaan hati yang timbul, bahwa segala sesuatunya bisa dicapai dengan kemauan yang keras, dan harus bisa mengetahui bahwa sebatang rokok adalah hanya sebatang rokok, hanya kepulan asap belaka, tidak lebih dan tidak kurang, dan tidak ada pengaruhnya dengan siutao ini. Pertanyaan saya, apakah memang ada tipe orang yang sensitif, sehingga
gampang terkena pengaruh-pengaruh perasaan hati yang timbul, ataukah sebaliknya, memang ada banyak orang yang tidak memperhatikan suara hati yang timbul, sehingga terbiasa dengan merokok?? trims
(more…)
Februari 1, 2008
Dari : Binarto
Pertanyaan :
Salam Tao, saya tertarik dengan ajaran Tao, mohon info di mana saya dapat
berlatih atau bertemu Shifu Tao. xie xie. (more…)
Februari 1, 2008
Dari : Agung
Pertanyaan :
Saya pernah mendengar seorang teman, ketika ditanya mengenai soal neraka seperti
yang sering diumumkan oleh orang K, memberikan komentar balik bahwa kita
sebagai manusia harus menggunakan otak waktu menganalisa sesuatu dan jangan
cepat untuk berpikir tahyul, terutama mengenai penyiksaan di neraka, karena
yensen seseorang itu kekal sifatnya dan tidak bisa merasakan rasa sakit walau
mau disiksa seperti apapun juga, tidak seperti tubuh jasmani kita sekarang ini.
Apakah pandangan mengenai hal ini?? Ada juga pendapat yang menyimpulkan bahwa karma buruk yang kita perbuat selama kita hidup, apabila sudah menumpuk dengan cara perbuatan menganiaya, membunuh orang, korupsi, seksual imoralitas dll, maka kita nantinya cuma merasakan akibatnya dan menuai hasilnya dikehidupan yang akan datang. Pertanyaan saya, adakah tempat penyiksaan bagi orang-orang tsb setelah mereka meninggal??
Bukankah yensen/ sukma seseorang tidak bisa disiksa dengan api atau rasa
kesakitan lagi?? Seseorang yang siutao belum tentu mencapai hasil menjadi dewa. Lantas, ketika orang tsb meninggal, antara yang sudah huang ie dan yang belum, apakah mereka berada ditempat yang berbeda?? Seseorang yang sudah di taoying, dan sudah dibimbing Fufaksen, apakah menjamin bahwa orang tersebut pasti tidak akan masuk ke neraka?? trims, itulah pertanyaan yang selalu timbul dihati saya. (more…)
Januari 26, 2008
Dari : Agung
Pertanyaan :
Pernah ada yg menjelaskan bahwa Dai Sang Lao Cin adalah TAO, yaitu Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa. Terus umat Kristen mengatakan Allah Bapa dari Tuhan Yesus adalah juga Maha Pencipta. Terus ada seorang teman yg sudah senior dari agama Budha memberikan kesaksian kalau dia mendapat penglihatan di datangi oleh Maha Dewa Dai Sang Lao Cin dan Tuhan Yesus berdampingan, malah bukan dari Budha Gautamanya. Dalam suatu kesaksian lagi ada seseorang agama Budha di Myanmar yang telah mati, bertemu dengan yg dia sebut Yama (Raja Neraka), dijelaskan bahwa Gautama sendiri tidak mencapai Nirwana, dan seseorang yg beragama Budha tadi kemudian mendapatkan ijin dari seseorang yg berjubah putih yang menampakan diri sebagai Yesus untuk kembali ke bumi. Selain dari cerita ini semua ada juga seorang katolik yg menaruh patung Yesus dirumahnya dan menyembahnya, namun mendapat suatu penglihatan dari Yesus yg kemudian menyuruhnya untuk tidak menyembah patung tersebut. Dari cerita ini semua, saya mendapat kesimpulan bahwa tiap agama mempunyai cara masing-masing. Didalam agama Tao umatnya menghargai dewa/i dengan cara pai kepada patung-patung dewa/i namun tidak demikian dengan agama Budha dan Kristen. Yg mau saya tanyakan, apakah yg umat Tao sebut Dai Sang Lao Cin adalah setingkat dengan yg umat kristen sebut Allah Bapa dari Tuhan Yesus? (more…)
Januari 5, 2008
Tie Guai lie
Dipanggil Li xuan, disebutkan sebagai seorang Taoist sejak muda, juga diceritakan dia belajar dengan Lao Zhi disuatu gunung.
Saat dia akan pergi belajar , ia menitipkan badan kasar dia kepada pesuruhnya untuk menjaganya, dan berpesan jika sampai 7 hari belum kembali, maka bisa membakar badannya.
(more…)
Januari 4, 2008
Dari : Agung
Pertanyaan :
Saya mau tanya mengenai adat istiadat agama Tao dan Budha. Didalam agama Tao kan kita pai kepada Dewa yang bersangkutan, lantas di dalam agama Budha apakah hal yang sama berlaku yaitu pai kepada patung Budha nya?
Ada sesiung yg mengatakan bahwa cara kerja dewa/i dalam agama Tao itu lain
dengan yg ada dalam agama Budha. Apa betul?
Lantas gimana caranya pai dengan patung Budha yang ada di kelenteng, yang pas
kalo di samping-2 altar lainnya ada patung Dewa/i? Apa dewa/i agama Budha ada
disekitar patung Budha nya? Bingung juga soalnya katanya cara kerjanya lain. (more…)
Januari 4, 2008